Oleh : Andi
Yahya
Bendahara umum Komunitas Hijau Lampung
Tragedi
lumpur lapindo di sidoarjo tahun 2006 seolah menjadi sebuah tragedi yang tak
kunjung henti, Lumpur yang terus meluap meskipun berbagai upaya penanggulangan
pun sudah dilakukan. Seiring sejalan dengan luapan lumpur lapindo, kasus inipun
meluap kembali kepermukaan setelah presiden SBY berkunjung ke sidoarjo Jawa
timur, dalam pidatonya saat rapat kabinet SBY menyindir PT Minarak Lapindo Jaya
mengenai tungakan hutang kepada rakyat Sidoarjo. Perlu diketahui PT Minarak Lapindo Jaya (MLJ)
memang diwajibkan membayar ganti rugi terhadap korban lumpur Lapindo sebesar
Rp.3,83 Triliun, Sejauh ini lapindo belum bisa membayar tungakan hutangnya
secara penuh, lapindo sudah membayar Rp2,91 Triliun,artinya masih tersisa Rp918
miliar.
Pernyataan SBY ibarat petir disiang bolong, tak ada angin tak
ada badai, SBY berteriak “Sampaikan kepada Lapindo kalau janji ditepeti,jangan
main-main dengan rakyat, kalau main-main dosanya dunia akhirat”. Pernyataan SBY
ini terbilang aneh dan mengherankan banyak pihak. Pasalnya SBY yang sedang
belepotan dengan menurunya popularitas Partai Demokrat, sampai harus turun
gunung dalam upaya menyelamatkan partai ini merasa perlu untuk membuat
pernyataan yang menghebohkan. Pernyataan ini mengundang respon berbagai
kalangan yang bertanya-tanya, apa latar belakang SBY Menyerang keluarga Abi
Rizal Bakri?. Banyak yang berpendapat serangan frontal yang dilakukan SBY
adalah masalah perhitungan perhitungan waktu yang tinggal setahun lagi menuju
Pemilihan Legeslatif dan Presiden RI di Pemilu 2014. Dimana hasil survey dari
berbagai lembaga menempatkan partai Golkar melenggang diatas angin dengan 20
persen, berbanding terbalik dengan Partai Demokrat yang merosaot
menjadi 8 Persen. Dalam hal ini banyak pengamat politik melihat seolah SBY
menunjukan ke publik bahwasanya bukan hanya partai demokrat yang terbelit
masalah, tetapi Partai lainpun juga memiliki masalah yang sama, seolah berbagi
masalah dengan Partai lain lewat manuver politik yang dilakukanya. Dilihat dari
cara SBY berkomunikasi ke publik, merupakan cara lama yang dimodifikasi menjadi
seolah moden, yaitu cara yang digunakan untuk mempengaruhi masyarakat supaya
antipati. Dari pidato yang disampaikan seolah SBY menunjukan kepada masyarakat
tentang biadapnya Lapindo yang menelantarkan rakyat, dan tidak bertanggung
jawab dengan tidak segera melunasi hutangnya. Serangan semacam ini dianggap
akan kontra produktif dari berbagaqi kalangan, karena sindiran SBY menagih
hutang lapindo merupakan tindakan Nekat dan merupakan pencitraan kuno, Untuk
mengalihkan isu di rumah sendiri dengan melempar batu kerumah lain. Manuver
serangan ini ditanggapi dingin oleh keluarga bakri, dan tidak menganggap ini
serangan politik, justru berterimaksih kepada SBY karena sudah mengingatkan.
Dalam dunia politik segala sesuatu bisa berubah secara sekejap, patut kita
tunggu reaksi dari Keluarga Abu Rizal Bakri dan Partai Golkar, apakah bersikap
Difens atau melakukan conter attack. Sekarang penilaian ada di mata rakyat,
melihat dari isu yang ada masyarakat sudah mualai cerdas dalam mencerna isu,
rakyat sudah bisa membedakan antara retorika yang disertai tindakan kongkrit,
dan retorika yang hanya pepesan kosong. Sindiran Menaggih janji lapindo bukan merupakan hal yang salah karena
memperjuangkan hak rakyat, namun seharusnya juga diiringgi juga dengan tindakan
kongkrit yang dilakukan. Jika hanya dengan himbauan, saran,dan sindiran maka
permasalahan yang akan multi tafsir. dan masalah
ini hanya menjadi angin lewat yang pasti berlalu tanpa solusi.
0 komentar:
Post a Comment